Pekerja memproduksi kaus di bengkel produksi di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Cakung, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2009). Sekitar 50 persen produksi kaus industri kecil tersebut diekspor ke luar negeri. Namun, sejak krisis finansial yang disusul resesi ekonomi secara merata di seluruh dunia, omzet mereka turun hingga 75 persen. [ sumber dari http://kulinerkita.multiply.com/photos/album/495#3%5D

Perkampungan Industri Kecil

November 28, 2008

Pekerja industri garmen memproduksi celana di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Cakung, Jakarta Timur, Jumat (28/11). Krisis global juga berpengaruh pada industri garmen lokal. Hermanto, pengusaha garmen di tempat tersebut mengatakan naiknya harga bahan baku dan pemasaran yang tak stabil membuat omzet turun hingga 30 persen. Kompas/Agus Susanto (AGS) 28-11-2008 [sember dari http://images.kompas.com/detail_news.php?id=12521%5D

Sejak pemerintah menerapkan Undang-Undang Nomor 26/2007 tentang Tata Ruang mulai 26 April 2007 lalu, ribuan pengusaha kecil dan industri rumahan (home industry) di wilayah Ibukota terancam gulung tikar.

Sebab, sesuai UU 26/2007 tersebut maka setiap pembangunan tempat usaha harus menyesuaikan izin domisili. Dan jika tidak sesuai dengan peruntukkannya, maka mereka harus membongkar tempat usahanya. Dan apabila ketentuan itu dilanggar, sesuai pasal 37 ayat 7, dijelaskan bahwa pejabat yang memberikan izin dikenakan sanksi pidana denda. Bahkan pemohonnya pun bisa dikenakan pidana tiga tahun dan denda Rp 500 juta sesuai pasal 69.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan merelokasi seluruh industri rumahan atau home industry yang berada di pemukiman penduduk ke Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung Jakarta Timur.

“Kita akan arahkan home industy itu ke PIK Pulogadung. Dan Direktur PIK sudah merencanakan untuk menampung home industry yang ada di pemukiman di wilayah Ibukota agar mereka tetap dapat mengembangkan usahanya,” jelas Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto di Balaikota, Jumat (4/4).

Menurut mantan Aster KASAD, pihak tidak akan merelokasi industri rumahan sebelum ada tempat penggantinya. “ Kita akan kaji dulu karena dalam prakteknya kita tidak bisa serta merta menertibkan home industry di pemukiman tanpa ada solusi karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” ujar wagub.

Saat ini, menurut  MAZ Panjaitan, Kepala Sub Dinas Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Koperasi dan UKM DKI,  jumlah industri rumahan di Jakarta mencapai 702 ribu.

Sementara itu, menurut Setiawan, salah satu pengusaha industri rumahan di Cengkareng Jakarta Barat mengatakan, kebijakan ini sangat menyulitkan pihaknya, karena jika tidak ada izin domisili akan jadi bulan-bulanan pemerasan oknum, sedang untuk memperpanjang izinnya tidak bisa dan harus disesuaikan dengan tata ruang.

Selama ini, kata dia,  setiap memperpanjang izin domisili, tidak pernah menemui kesulitan baik di kelurahan maupun di kecamatan, tapi sejak adanya UU 26/2007, ia mengaku tidak bisa memperpanjang izin domisilinya. Alasannya, lanjut dia, harus ada keterangan dari Dinas Tata Kota terlebih dahulu. “Permohonan kami ditolak, karena harus ada surat keterangan dari Tata Kota,” ungkapnya.

Menurutnya, jika pemerintah memberlakukan UU tersebut maka dapat dipastikan akan mematikan usaha rakyat kecil. Seharusnya, lanjut dia, pemerintah memberikan kemudahan untuk rakyat kecil bukan malah mempersulit. “Katanya pemerintah ingin menekan angka pengangguran, tapi kalau begini malah memperbanyak pengangguran dan kemiskinan,” ujarnya.

Usaha rumahan seperti milik Setiawan di Jakarta, jumlahnya tidak sedikit, umumnya warga yang memiliki usaha kecil karena tidak memiliki lapangan kerja lain, sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan rumahnya sebagai tempat usaha.

Secara terpisah, Camat Cengkareng, Rohali mengatakan, pihaknya bukan mempersulit orang yang akan mengajukan perpanjangan ijin domisili, tapi penolakan atas permohonan setiawan itu sesuai dengan ketentuan UU.

“Kalau kami mendatangani izin tersebut, bukan hanya diancam penjara lima tahun dan denda Rp 500 juta, tapi juga bisa dicopot secara tidak hormat,” jelasnya.

Penolakan perpanjangan izin domisili ini juga banyak ditemukan di Kecamatan Tambora. Sebab, di kawasan itu banyak kegiatan industri rumahan seperti konveksi pakaian jadi dan sablon.

Dan jika UU tersebut diterapkan dapat dipastikan usaha rumahan mereka akan gulung tikar karena di kawasan itu hanya diperuntukkan untuk pemukiman. “Ini ketentuan undang-undang, jadi harus dipatuhi,” kata Camat Tambora, Yanto Satyar.

Penulis: wawan

Sumber: wawan/udin [sumber dari http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=28239%5D

Oleh
Suwarso

JAKARTA – Menjamurnya swalayan dan mal secara tidak langsung memukul pengusaha home industry di Jakarta. Salah satunya melanda pengusaha sepatu yang mengais rezeki di kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) di Penggilingan, Jakarta Timur.

Harga produk yang ditawarkan para pengusaha papan bawah ini kalah bersaing dengan yang disuguhkan di swalayan maupun mal. Kondisi ini membuat masa kejayaan pengusaha yang mangkal di PIK Penggilingan, Jakarta Timur seperti di tahun 2000-an kini tinggal kenangan belaka. Namun, kondisi itu berbeda dengan pengusaha konveksi yang malah bisa dikatakan panen order, apalagi menjelang tahun ajaran baru.
Muhamad Faisal, pengusaha sepatu di PIK Penggilingan, Jakarta Timur menyebutkan, kondisi persepatuan di kawasan itu kian terpuruk saja. Padahal, mereka sudah menaruh harga murah. “Kami sudah membuka harga paling murah, seperti halnya harga sepatu wanita Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Sepatu perkantoran untuk pria mencapai Rp 50.000 hingga Rp 100.000,” katanya.
Sayangnya, harga murah itu belum bisa bersaing dengan barang pabrik yang dijual di swalayan serta mal yang bertebaran di hampir sudut Jakarta.
Mutunya pun kalah bersaing dengan produk pabrik. Hal itu yang membuat penghasilan para pedagang di kawasan PIK turun drastis.
Faisal asal Padang, Sumatera Barat sudah sejak 1991 membuka usaha sepatu di PIK mengungkapkan, omzetnya menurun sejak tahun 2006. Di tahun 2004 omzetnya setiap hari bisa mencapai Rp 2 juta lebih. Kini, untuk meraup setengahnya saja sudah susah. Untuk mendapatkan Rp 300.000 per hari saja sudah sangat sulit.
Bahkan, di hari libur panjang seperti Kamis (17/5) lalu hingga hari Minggu (20/5) ternyata tidak mampu mendongkrak omzet penjualan sepatunya yang hanya mencapai Rp 1 juta per hari. Hal itu tejadi karena warga Jakarta kini tidak lagi menjadikan PIK di Penggilingan, Jakarta Timur sebagai tempat berbelanja ketika hari libur panjang tiba.
Mereka malah condong berlibur sekalian belanja ke Bandung, Jawa Barat. Apalagi jarak tempuh mobil melalui tol Cipularang ke Bandung hanya dua jam saja. Kondisi produk-produk industri kecil di Kota Kembang itu tidak kalah dengan Jakarta. Apalagi Bandung dikenal dengan produk sepatunya di kawasan Cibaduyut.
Keluhan itu juga dilontarkan Neni Wardhana, pengusaha sepatu di kawasan PIK. Guna mengejar omzet setiap harinya dia terpaksa memeras otak untuk memadukan hasil industri dari kawasan Jakarta dengan Bandung. “Hal itu tampaknya sedikit menarik minat pembeli,” ujarnya.
Perpaduan produk Bandung dengan daerah lain membuat para pembeli bebas memilih sepatu yang dibutuhkan. Sementara itu, para konsumen juga berpikir dua kali untuk membeli produk sepatu: untuk apa beli langsung di Bandung bila produk serupa ternyata ada di Jakarta. Belum lagi ongkos perjalanan darat dari Jakarta ke Bandung yang juga tidak murah banget.
Melalui pertimbangan seperti itu akhirnya pelanggan ada pula yang kembali lagi belanja di PIK. Begitu juga dengan konsumen yang baru datang dari daerah ingin mengetahui kawasan PIK saat ini. Dengan begitu akhirnya para pendatang dari daerah belanja sepatu di kawasan tersebut.
Seperti yang dialami Maria Adriana warga asal Pontianak, Kalimantan Barat. Saat datang ke PIK ia ingin tahu dan belanja beberapa perlengkapan sehari-hari untuk alat kerja. Karena ia mendengar kabar bahwa barang-barang di PIK harganya lebih miring dibanding di kawasan perbelanjaan yang lain.

Berbeda
Kondisi lesu di industri sepatu ternyata jauh berbeda dengan situasi pengusaha kecil konveksi di PIK. Pasalnya, pengusaha konveksi ini mempunyai waktu tertentu untuk diburu konsumen. Hal itu sudah terbaca oleh para pengusaha konveksi: kapan bisa meraup keuntungan, dan bila mana akan paceklik.
Dalam kurun waktu April hingga Juli, pengusaha konveksi kebanjiran order. Pasalnya, banyak konsumen yang memesan kaus maupun baju yang harus disablon karena bertepatan dengan tahun ajaran baru sekolah dasar, sekolah menengah pertama (SMP) maupun SMU dan perguruan tinggi.
Banyaknya pemesan kaus di kawasan industri PIK membuat pengusaha konveksi harus menambah karyawan.
Lain halnya dengan pengusaha sepatu yang dulunya mempekerjakan sekitar 15 orang kini tinggal lima orang. Sementara itu, pengusaha konveksi setelah kebanjiran order dulunya mempekerjakan lima orang, kini harus menambah dua kali lipatnya.
Meluapnya pemesanan kaus kali ini diakui Upik Sasmita, pengusaha konveksi di kawasan PIK. “Pesanan kaus di tempat kami mulai ramai sejak April dan kemungkinan berjalan hingga Juli. Karena di bulan-bulan tersebut bertepatan dengan persiapan tahun ajaran sekolah baru. Dengan begitu ada kalanya pelanggan memesan kaus lebih dulu sebelum menerima murid baru,” ujarnya. n [sumber dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/26/jab07.html%5D

Jakarta – Selain menghantam industri-industri berskala besar, banjir Jakarta juga menghentikan produksi industri skala kecil atau usaha kecil dan menengah (UKM). Namun untuk Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung berhasil lolos dari amukan banjir.

Di antaranya sentra industri tahu tempe di Mampang, yang menghentikan produksi 80 UKM. 1.470 usaha mebel di Klender terhenti dan 580 UKM garmen di Cipulir dan Pondok Aren juga terkena dampak banjir. Bahan baku penolong peralatan produksi terbawa arus dan hilang.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widhianto dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (7/2/2007).

“Saat ini pihak Departemen Perindustrian sedang mengkaji apa saja yang bisa pemerintah bantu agar mereka bisa berprduksi kembali,” ujarnya.

Namun berapa kerugian yang diderita UKM masih belum dihitung karena hingga saat ini banjir masih belum surut.

Beberapa UKM yang lolos dari amukan banjir antara lain Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung, industri pembuatan boneka di Bekasi, dan sentra garmen di Tegal Parang, Mampang.

Sentra industri kecil yang berlokasi di Tanah Abang masih dicek oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan DKI Jakarta apakah mereka juga ikut menjadi korban banjir. ( ddn / ddn )

sumber dari : http://jkt6a.detiksport.com/read/2007/02/07/155236/739414/4/pik-pulogadung-lolos-dari-banjir

MEMASUKI perkampungan industri kecil yang terletak di Jalan Raya Penggilingan, Jakarta Timur, suasananya nyaris tidak berubah sejak beberapa tahun lalu. Hanya ada beberapa calon pembeli saja yang menawar harga. Suasana ini jauh berbeda dengan ramainya pusat perbelanjaan dan mal yang menjamur di Jakarta.

“Ya, begini ini sejak saya ke sini tahun 1983. Padahal, setiap ada tamu negara, selalu dibawa kemari. PIK (perkampungan industri kecil) selalu dipromosikan, namun komentar pengunjung biasanya sama, kok kumuh ya. Saya rasa memang mental orangnya. Coba kalau ada 10 saja orang Tionghoa pasti maju pesat,” kata Lela, pemilik kios Nusa Indah yang memproduksi baju batik.

Dia sendiri sampai saat ini masih bertahan karena sudah mempunyai pelanggan. Dengan jumlah karyawan lebih dari 10 orang, dia bisa memproduksi beragam baju dengan harga miring namun berkualitas. “Untuk umur PIK yang sudah 20 tahun lebih, seharusnya jauh lebih berkembang,” kata Lela yang mengaku membeli kios seharga Rp 56 juta beberapa tahun lalu.

Kepala Subdinas Perindustrian dan Perdagangan Jakarta Timur Nurhaida Mukery mengatakan, salah satu kendala dalam mengembangkan sektor industri adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia. “Akibatnya, produk hasil industri yang dilempar ke pasaran kurang bersaing,” katanya.

Padahal, kualitas industri di PIK yang seluruhnya handmade itu tidak kalah dengan produk yang dijual di pusat perbelanjaan. Pihaknya saat ini sedang mengembangkan sistem kendali mutu dengan mencari kesalahan seminim mungkin.

Efyar Jalinus, perajin dan pemasok sepatu di PIK, mengatakan, banyak produk di PIK kurang dihargai karena memang kurang dipromosikan.

“Padahal, di sini ini unik. Semuanya home industry. Banyak yang pesan di sini untuk dijual lagi ke mal. Model dan jenis bahannya dipilih sendiri oleh pemesan, nanti kita yang mengerjakan,” ujar Jalinus.

Berdasarkan data Dinas Perindag DKI Jakarta, ada 852 kios di areal seluas 44 hektar itu. Unit-unit itu terdiri atas 18 barak kerja dengan pengusaha 429 orang. Jenis-jenis usaha yang digarap di PIK meliputi konfeksi (275 pengusaha), logam (60), kulit (46), aneka komoditas (44), dan mebel (22).

Staf ahli Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah DKI Jakarta, Endro Praponco, mengatakan, semua kios di PIK saat ini menjadi milik pengusaha dengan sertifikat hak guna bangunan. Apa boleh buat, PIK tetap tak berkembang. (IVV) [sumber dari http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0404/24/metro/987677.htm%5D

Jakarta, Pelita

Perajin kaus di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung, Jakarta Timur, mengaku kewalahan memenuhi order kaus untuk kampanye partai politik peserta Pemilihan Umum 2004.

Bahkan, baru-baru ini, dilaporkan sebagian perajin menolak pesanan dari sejumlah partai politik karena ketebatasan kapasitas produksi.

Untuk memenuhi banyaknya pesanan kaus, rompi, dan berbagai atribut partai lainnya, yang dalam dua bulan terakhir ini terus membanjir, para perajin bahkan telah menambah shift para pekerja sehingga beroperasi selama 24 jam.

Sedangkan setiap kaus yang diproduksi dengan harga Rp3.500 per potong, para perajin mendapat untung bersih sekitar Rp250 per potong. Bila ditambah dengan foto calon anggota legislatif atau gambar lainnya, maka harga tersebut akan ditambah Rp250 per potong. Masing-masing perajin di Perkampungan Industri Kecil Pulogadung memiliki kapasitas produksi yang bervariasi antara 1.000 hingga 2.000 potong kaus per hari.

Seorang pengrajin Mulyati, 35, warga Pisangan Lama dan memiliki usaha di Perkampungan Industri Kecil, mengatakan musim kampanye partai politik belum mulai, tapi partai politik peserta Pemilihan Umum 2004 sudah berebut membuat kaos. Order yang diterima selama ini, membludak membuat para perajin kaos kewalahan. “Kami terpaksa menolak order,” ujarnya kepada Pelita, Selasa (24/2).

Dua bulan terakhir bisnis kaos di Perkampungan Industri Kecil itu diakui laris manis. Pesanan mulai dari kaos, rompi, dan berbagai atribut parpol. Untuk memenuhi pesanan, para pengusaha telah menambah pekerja dengan pembagian tugas selama 24 jam. Namun, tetap saja itu tidak membantu. Menurut Mulyati, meski bekerja sehari penuh mereka tetap kewalahan. “Kapasitas kami cuma 1000 kaos.”.

Sementara di lokasi lain di Jatinegara, pusat grosir dan lokasi pembuatan sablon juga dibanjiri pembeli. Sejak pagi, Jalan Kauman, Semarang, sudah ramai. Para pembeli menyerbu pedagang bendera, kaos, dan atribut lain seperti topi dan pin.

Umumnya order besar mengalir dari Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Partai Golongan Karya.

Para pedagang bendera, kaos, dan atribut partai lainnya di Kramatjati, pun sudah ramai diserbu pembeli. Para pedagang sejak beberapa pekan terakhir mengaku memperoleh kenaikan omzet penjualan yang cukup besar.

Umumnya yang memesan dalam jumlah besar adalah partai-partai lama seperti, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Partai Golongan Karya.

Dari sejumlah atribut, kaos dan bendera adalah jenis yang banyak dipesan. Untuk pesanan kaos di atas 100 potong harganya dipatok antara antara Rp4.500 hingga Rp10.000 per potong. Sedangkan bendera harga satuannya antara Rp2.500 hingga Rp20.000. Atribut lain yang dijual antara lain adalah topi, pin, dan jaket

Hal serupa juga dialami perajin bola di Kalisari, Ciracas. Sejumlah pengrajin yang dihubungi melalui telepon mengaku kebanjiran pesanan bola bergambar parpol. Penjualan bola meningkat drastis dari rata-rata 500 buah, kini mereka dapat menjual 6.000 bola dalam sebulan.(dew) [sumber dari http://www.hupelita.com/baca.php?id=23448%5D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.